Senin, 14 September 2026

Okupansi Gudang Modern Jabodetabek Capai 95 Persen, Sektor Logistik Tetap Tangguh


  • Selasa, 18 Agustus 2026 | 21:30
  • | News
 Okupansi Gudang Modern Jabodetabek Capai 95 Persen, Sektor Logistik Tetap Tangguh Okupansi gudang modern di Jabodetabek mencapai 95 persen pada kuartal II 2026. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM – Sektor pergudangan modern di kawasan Jabodetabek menunjukkan ketahanan di tengah perlambatan ekonomi makro. Konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat tingkat okupansi gudang modern di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi mencapai sekitar 95 persen pada kuartal II 2026.

Tingginya tingkat keterisian tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap fasilitas logistik dan pergudangan masih kuat. Aktivitas manufaktur, perdagangan, hingga perdagangan elektronik atau e-commerce menjadi sejumlah sektor yang terus menopang permintaan.

Country Head and Head of Logistics & Industrial JLL Indonesia, Farazia Basarah, mengatakan permintaan ruang pergudangan masih cukup aktif meskipun kondisi ekonomi secara umum mengalami perlambatan.

“Dari jumlah permintaan logistik, okupansinya masih di 95 persen. Masih banyak logistik dan e-commerce yang cukup aktif, dan kami juga melihat dari cold storage pertumbuhannya terus meningkat,” ujar Farazia dalam taklimat media di Jakarta, Selasa (18/8/2026).

Pasokan Gudang Baru Terus Bertambah

JLL mencatat pasokan baru pergudangan modern di Jabodetabek mencapai 75.500 meter persegi sepanjang kuartal II 2026. Sementara itu, permintaan bersih atau net demand tercatat sebesar 35.600 meter persegi.

Dengan kondisi tersebut, tingkat okupansi pergudangan modern di kawasan Jabodetabek tetap berada di level sekitar 95 persen.

Permintaan tidak hanya datang dari perusahaan e-commerce. Sejumlah sektor lain turut menjadi pengguna utama fasilitas pergudangan, seperti operator last-mile delivery, perusahaan logistik pihak ketiga atau third-party logistics (3PL), industri fast-moving consumer goods (FMCG), hingga perusahaan perangkat listrik dan elektronik.

Pertumbuhan kebutuhan cold storage juga menjadi salah satu tren yang mendapat perhatian. Meningkatnya kebutuhan penyimpanan dengan standar suhu tertentu membuka peluang baru bagi pengembangan fasilitas logistik modern.

Manufaktur Masih Jadi Penopang Investasi

Ketahanan sektor logistik juga tidak terlepas dari perkembangan investasi di Indonesia. Menurut Farazia, investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) masih menunjukkan pertumbuhan.

Pada kuartal II 2026, FDI Indonesia tercatat meningkat sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sekitar separuh dari investasi tersebut berasal dari sektor manufaktur.

Manufaktur menjadi penting bagi industri logistik karena aktivitas produksi membutuhkan rantai pasok yang terintegrasi, mulai dari penyimpanan bahan baku, distribusi, hingga pengiriman produk ke konsumen.

Selain manufaktur, sektor pertambangan juga menjadi salah satu kontributor utama investasi. Di sisi lain, sektor jasa, termasuk data center, ikut mengalami peningkatan seiring berkembangnya kebutuhan terhadap infrastruktur digital dan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Investor Masih Melihat Prospek Logistik Indonesia

Salah satu indikator minat investor terhadap sektor logistik Indonesia terlihat dari transaksi akuisisi sejumlah perusahaan logistik oleh I Squared pada awal Agustus 2026.

Perusahaan investasi infrastruktur yang berbasis di Miami, Amerika Serikat, tersebut sebelumnya telah memiliki investasi di Indonesia pada sektor serat optik dan pusat data.

Kini, I Squared memperluas portofolionya ke sektor logistik melalui akuisisi lima perusahaan logistik, termasuk perusahaan pergudangan yang memiliki jaringan di Jakarta, Jabodetabek, Bogor, dan Surabaya.

Bagi JLL, transaksi tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa investor masih melihat prospek jangka panjang sektor logistik Indonesia, meskipun pertumbuhan ekonomi sedang menghadapi tekanan.

“Meski pasar Indonesia mungkin sedikit melambat dari sisi makroekonomi, kami melihat okupansi logistik masih 95 persen,” kata Farazia dikutip Antara.

E-Commerce dan Logistik Jadi Penggerak Permintaan

Tingginya okupansi gudang modern memperlihatkan bahwa kebutuhan terhadap infrastruktur logistik belum kehilangan momentum.

Pertumbuhan e-commerce, distribusi barang, layanan pengiriman cepat, kebutuhan penyimpanan produk, serta aktivitas manufaktur membuat perusahaan tetap membutuhkan lokasi pergudangan yang strategis dan memiliki fasilitas modern.

Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa sektor properti industri memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sejumlah segmen properti lainnya. Ketika kebutuhan distribusi dan rantai pasok terus berkembang, permintaan terhadap ruang logistik ikut terdorong.

Dengan tingkat okupansi yang masih mencapai 95 persen, pasar pergudangan modern Jabodetabek masih menjadi salah satu sektor properti yang menarik untuk diperhatikan. Pertumbuhan e-commerce, manufaktur, cold storage, serta kebutuhan infrastruktur digital berpotensi terus menjadi faktor penting bagi perkembangan sektor logistik ke depan.


 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru