Sabtu, 07 Maret 2026

Survei BI: Harga Properti Residensial Akhir 2025 Tumbuh Tipis, Pasar Masih Selektif


  • Jumat, 06 Februari 2026 | 19:30
  • | News
 Survei BI: Harga Properti Residensial Akhir 2025 Tumbuh Tipis, Pasar Masih Selektif Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso. ANTARARizka

JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM – Pergerakan harga properti residensial pada penghujung 2025 belum menunjukkan lonjakan berarti. Bank Indonesia melalui Survei Harga Properti Residensial (SHPR) mencatat kenaikan harga di pasar primer masih berlangsung terbatas, dengan tren yang relatif stabil dibanding kuartal sebelumnya.

Indikator utama survei, yakni Indeks Harga Properti Residensial (IHPR), pada triwulan IV 2025 tumbuh 0,83 persen secara tahunan. Angka ini nyaris sama dengan pertumbuhan triwulan III 2025 yang berada di level 0,84 persen. Artinya, pasar masih bergerak hati-hati dan belum mengalami akselerasi signifikan.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dinamika harga paling terasa pada segmen rumah tipe menengah. Indeks untuk segmen ini tercatat 113,57 atau tumbuh 1,12 persen (yoy), sedikit melambat dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 1,18 persen.

Sementara itu, rumah tipe kecil justru menunjukkan peningkatan tipis. Indeksnya berada di level 113,83 dengan pertumbuhan 0,76 persen, lebih tinggi dari triwulan III 2025 yang sebesar 0,71 persen. Untuk rumah tipe besar, kenaikannya cenderung stabil di angka 0,72 persen dengan indeks 108,07.

Meski harga bergerak perlahan, sisi penjualan menunjukkan sinyal lebih optimistis. Penjualan rumah tipe kecil dan menengah tumbuh positif, berbeda dengan segmen rumah besar yang masih tertekan. Secara keseluruhan, penjualan properti residensial di pasar primer naik 7,83 persen secara tahunan, berbalik arah dari triwulan sebelumnya yang sempat terkontraksi 1,29 persen.

Dari sisi pendanaan, mayoritas pengembang masih mengandalkan modal internal. Sekitar 80,14 persen pembiayaan proyek perumahan berasal dari kas pengembang sendiri. Di tingkat konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tetap menjadi pilihan utama dengan porsi 70,88 persen dari total transaksi dikutip Antara.

Kondisi ini menggambarkan bahwa sektor properti memasuki fase pemulihan yang lebih terukur. Minat beli mulai kembali, namun pelaku pasar masih menimbang daya beli, suku bunga, dan prospek ekonomi sebelum melakukan ekspansi agresif. Tahun 2026 diprediksi menjadi periode krusial untuk melihat apakah tren positif ini bisa berlanjut lebih kuat.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru