Loading
Booming AI Ubah Pasar Properti, Harga Rumah di San Francisco Naik Gila-gilaan. (Ilustrasi AI)
JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM – Ledakan industri kecerdasan buatan (AI) ternyata tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mengguncang pasar properti. Di San Francisco, Amerika Serikat, harga rumah melonjak tajam seiring membanjirnya karyawan perusahaan AI dengan pendapatan dan kepemilikan saham bernilai fantastis.
Fenomena ini bahkan melahirkan praktik yang sebelumnya sulit dibayangkan. Sejumlah penjual rumah kini bersedia menerima saham perusahaan AI seperti OpenAI atau Anthropic sebagai bagian dari pembayaran properti. Kondisi tersebut menjadi gambaran betapa besarnya kekuatan ekonomi yang lahir dari revolusi AI.
Rumah Mewah Dijual, Saham OpenAI Jadi Alat Pembayaran
Di kawasan elite Duboce Triangle, San Francisco, sebuah apartemen bergaya Edwardian dengan tiga kamar tidur dipasarkan hampir US$3 juta. Yang membuatnya menjadi perbincangan bukan hanya desain mewahnya, tetapi juga metode pembayaran yang tidak biasa.
Penjual membuka peluang menerima saham OpenAI maupun Anthropic sebagai pengganti sebagian pembayaran tunai.
Seorang karyawan muda OpenAI yang tengah mencari rumah bahkan mengaku tertarik dengan skema tersebut. Ia berencana menanyakan kepada perusahaan apakah saham yang dimilikinya dapat dialihkan untuk membeli properti.
Kota AI, Harga Rumah Ikut Melambung
San Francisco kini menjadi pusat perkembangan industri AI dunia. Selain menjadi markas OpenAI, kota ini juga menjadi rumah bagi Anthropic, pengembang chatbot Claude.
Dampaknya langsung terasa di sektor properti.
Menurut data perusahaan real estat Redfin, harga rumah rata-rata di San Francisco melonjak:
19% pada Maret 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
14,5% pada April.
14,1% pada Mei.
Harga jual median rumah kini mencapai sekitar US$1,76 juta, jauh di atas rata-rata nasional Amerika Serikat yang berada di kisaran US$400 ribu.
Kepala Ekonom Redfin, Daryl Fairweather, menyebut lonjakan tersebut sangat berkaitan dengan kekayaan baru yang dihasilkan industri AI.
"Orang-orang memiliki uang dalam jumlah besar dan siap membeli rumah," ujarnya sebagaimana dilaporkan dan dikutip dari BBC.
Saham AI Melahirkan Banyak Jutawan Baru
Bukan hanya gaji tinggi yang membuat karyawan AI memiliki daya beli luar biasa.
Program kepemilikan saham perusahaan menjadi sumber kekayaan terbesar.
Pada Oktober tahun lalu, lebih dari 600 karyawan OpenAI dilaporkan menjual saham senilai total US$6,6 miliar, atau rata-rata sekitar US$11 juta per orang.
Sementara itu, karyawan Anthropic juga memperoleh kesempatan menjual saham dengan nilai sekitar US$6 miliar.
Dengan rencana kedua perusahaan melantai di bursa saham melalui Initial Public Offering (IPO), banyak pengamat memperkirakan jumlah jutawan baru dari industri AI masih akan terus bertambah.
Perang Harga Rumah Semakin Sengit
Para agen properti mengakui kondisi pasar saat ini sangat kompetitif.
Matthew Goulden, agen properti yang telah lebih dari dua dekade bekerja di San Francisco, mengatakan perang penawaran kini menjadi pemandangan sehari-hari.
Tidak sedikit rumah yang akhirnya terjual ratusan ribu hingga jutaan dolar di atas harga awal. Pembelian tunai juga semakin sering terjadi, terutama oleh para pekerja perusahaan AI.
Rachel Swann, agen properti lainnya, bahkan menilai harga yang saat ini dianggap mahal bisa saja terlihat murah dalam beberapa tahun ke depan apabila tren AI terus berkembang.
Tidak Semua Menikmati Ledakan AI
Di balik melonjaknya harga rumah, muncul persoalan baru bagi masyarakat yang tidak bekerja di sektor teknologi.
Banyak keluarga dengan penghasilan biasa mulai kesulitan membeli rumah di San Francisco dan memilih pindah ke wilayah pinggiran Bay Area yang lebih terjangkau.
Salah satu keluarga mengaku hanya bisa membeli rumah di San Francisco karena salah satu anggota keluarganya bekerja di OpenAI dan memperoleh keuntungan besar dari penjualan saham perusahaan.
Sebaliknya, keluarga lain yang tidak memiliki keterkaitan dengan industri AI akhirnya meninggalkan kota tersebut karena harga rumah sudah di luar jangkauan.
"Kami sebenarnya tidak ingin pindah. Tetapi kami memang tidak lagi mampu tinggal di San Francisco," ujar salah seorang warga.
Masih Ada Faktor Penyeimbang
Meski pasar sedang bergairah, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa kenaikan harga belum tentu berlangsung tanpa batas.
Profesor ekonomi Universitas California Berkeley, Enrico Moretti, menilai industri AI masih berada pada tahap awal, tetapi tetap memiliki risiko perlambatan.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah perusahaan teknologi besar serta kemungkinan normalisasi gaji ketika industri AI semakin matang dapat mengurangi tekanan terhadap pasar properti.
Selain itu, sebagian besar keuntungan dari IPO perusahaan AI nantinya diperkirakan akan lebih banyak dinikmati investor dibandingkan para karyawan.
AI Mengubah Wajah Kota
Meski demikian, dalam jangka pendek revolusi AI telah mengubah wajah San Francisco.
Kota yang sempat kehilangan penduduk saat pandemi Covid-19 kini kembali dipenuhi pembeli rumah dengan kemampuan finansial luar biasa. Fenomena tersebut sekaligus memperlebar kesenjangan antara mereka yang menikmati ledakan ekonomi AI dan masyarakat yang harus rela meninggalkan kota karena harga properti yang semakin tidak terjangkau.
Sebagai gambaran, apartemen di Duboce Triangle yang sempat menjadi perhatian itu akhirnya laku US$3,2 juta, sekitar US$200 ribu lebih tinggi dari harga penawaran awal. Rincian pembayarannya dirahasiakan, sehingga tidak diketahui apakah saham AI benar-benar menjadi bagian dari transaksi tersebut.