Loading
Ilustrasi PT Summarecon Agung Tbk menghadirkan produk hunian terbaru. (Net)
JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM – Kabar baik bagi calon pembeli rumah! Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 4,75 persen mulai terasa dampaknya di pasar properti. Data dari Rumah123 menunjukkan, pencarian rumah di kawasan Jabodetabek meningkat signifikan setelah kebijakan ini diumumkan.
Menurut Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, turunnya suku bunga tidak hanya meringankan cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), tapi juga membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat untuk memiliki hunian sendiri.
“Dengan bunga KPR yang lebih rendah, masyarakat jadi lebih optimis untuk membeli rumah. Momentum seperti ini sangat penting untuk menggerakkan kembali pasar properti di tengah stabilnya ekonomi,” ujar Marisa, Kamis (24/10/2025).
Pasar Properti Mulai Bergairah Lagi
Setelah dua tahun penuh kehati-hatian akibat tingginya suku bunga, pasar properti Indonesia akhirnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Penurunan BI Rate ini menjadi angin segar bagi pembeli rumah, terutama mereka yang menunda pembelian karena beban cicilan sebelumnya terasa berat.
Berdasarkan Flash Report Oktober 2025 dari Rumah123, Tangerang kini menjadi daerah dengan pencarian rumah tertinggi secara nasional, mencapai 14,1 persen. Posisi ini menyalip Jakarta Selatan (12,7 persen) dan Jakarta Barat (11,2 persen).
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembeli kini makin cermat mencari keseimbangan antara harga, aksesibilitas, dan kualitas hidup.Sementara itu, Bekasi (9,8 persen) dan Depok (8,6 persen) tetap menjadi area incaran dengan permintaan yang stabil. Di luar Jawa, Bandung dan Denpasar juga mulai mencuri perhatian para pencari rumah baru.
Pencarian Rumah Kini Serba Digital
Tren work-from-anywhere yang masih bertahan sejak pandemi ikut memengaruhi pola mobilitas masyarakat. Tak heran bila pencarian hunian kini tak lagi terpusat di kota besar saja.
Menariknya, digitalisasi juga berperan besar dalam perubahan perilaku konsumen. Platform seperti Rumah123 mencatat lonjakan penggunaan fitur seperti simulasi KPR dan perbandingan harga antarwilayah.
Dengan teknologi ini, calon pembeli bisa menghitung kemampuan finansial hingga mengajukan KPR secara daring — membuat proses yang dulu rumit kini lebih transparan, cepat, dan efisien.
“Dengan bunga yang lebih rendah dan informasi yang mudah diakses, keputusan membeli rumah bisa diambil lebih cepat dan terukur,” tambah Marisa.
Optimisme Baru untuk Industri Properti
Kombinasi antara stabilitas ekonomi, suku bunga rendah, dan kemudahan digital diyakini akan terus mendorong kebangkitan sektor properti nasional hingga akhir tahun. Para pelaku industri pun optimistis tren positif ini akan berlanjut, terutama di kawasan penyangga Jabodetabek yang masih menawarkan banyak potensi pertumbuhan.