Rabu, 14 Januari 2026

Suplai Turun 1,0%: Kenapa Listing Rumah Sekunder Menipis Saat Harga Mulai Naik?


  • Selasa, 13 Januari 2026 | 15:30
  • | News
 Suplai Turun 1,0%: Kenapa Listing Rumah Sekunder Menipis Saat Harga Mulai Naik? Ilustrasi - Contoh rumah sekunder atau rumah seken di Indonesia. (Foto: Woro Anjar Verianty via Gemini/Liputan6.com)A

JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM - Banyak orang mengira, saat harga properti naik, suplai otomatis ikut naik. Tapi data terbaru menunjukkan cerita yang berbeda: volume suplai rumah sekunder turun 1,0% secara month-on-month. Bahkan secara tahunan, penurunan lebih terasa: -9,1% year-on-year. 

Angka ini dibaca melalui Resale Supply Index (RSI) yang disusun dari database listing Rumah123 dan 99.co.

Saat Suplai Menurun, Persaingan Pembeli Bisa Naik

Di pasar properti, suplai listing adalah “stok”. Kalau stok menipis, maka:

  • pembeli cenderung berkompetisi pada rumah yang bagus,
  • rumah dengan lokasi strategis makin cepat terserap,
  • dan penjual bisa lebih percaya diri menjaga harga.

Ini belum tentu berarti harga akan langsung melonjak besar. Tapi dinamika yang muncul jelas: pasar tidak lagi longgar seperti saat listing melimpah.

Tangerang Jadi Lokasi Paling Populer

Menariknya, di tengah suplai menurun, minat pencarian tetap kuat. Dalam laporan listing enquiries:

  • Tangerang menjadi lokasi paling populer dengan porsi 13,9% dari total enquiries rumah.
  • Disusul Jakarta Selatan 11,4%
  • dan Jakarta Barat 9,7% 

Di area Jabodetabek, kota dengan kenaikan proporsi popularitas bulanan terbesar adalah:

  • Tangerang Selatan (+0,2%)
  • Depok (+0,1%) 

Sinyalnya jelas: bukan cuma Jakarta yang diburu, tetapi daerah-daerah penyangga yang dianggap masih “masuk akal” dari sisi harga.

Ringkasan eksekutif menyebut: “Volume suplai turun 1,0% secara month-on-month… Secara year-on-year, volume suplai lebih rendah 9,1%.”

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru