Loading
Ilustrasi - BI Rate turun ke 4,75 persen sepanjang 2025, namun pasar properti nasional masih bergerak hati-hati. (ChatGPT AI)
JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM – Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) ke level 4,75 persen sepanjang 2025 belum sepenuhnya mendorong lonjakan transaksi properti. Meski memberi ruang cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) yang lebih ringan, pasar properti nasional masih bergerak secara selektif dan cenderung berhati-hati.
Laporan 123 Property Recap 2025 dari Rumah123 mencatat, penurunan BI Rate memang membuka peluang bagi perbankan untuk menawarkan skema KPR yang lebih kompetitif. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta memicu euforia pembelian rumah, seperti yang terjadi pada periode suku bunga rendah di tahun-tahun sebelumnya.
Sepanjang 2025, banyak pencari rumah memilih menunda keputusan sambil mencermati stabilitas keuangan jangka panjang. Salah satu faktor yang memengaruhi sikap tersebut adalah tekanan inflasi, yang tercatat lebih tinggi dibanding kenaikan harga rumah nasional selama tujuh bulan berturut-turut.
Situasi ini membuat sebagian calon pembeli lebih fokus pada perhitungan cashflow dan kemampuan membayar cicilan dalam jangka panjang, bukan semata-mata tergiur bunga rendah. Pembeli cenderung memastikan kesiapan dana awal, stabilitas pekerjaan, serta kesesuaian hunian dengan kebutuhan sebelum mengambil keputusan.
Meski demikian, pasar properti tidak sepenuhnya stagnan. Segmen pembeli end-user yang telah siap secara finansial tetap aktif memanfaatkan momentum suku bunga rendah untuk mencari hunian yang sesuai. Selain itu, pembeli rumah pertama dan investor konservatif juga masih melakukan transaksi, terutama di lokasi yang dinilai memiliki akses dan fungsi yang matang.
Rumah123 menilai, tren ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen properti di Indonesia. Pada 2025, keputusan membeli rumah tidak lagi didorong oleh faktor emosional atau kekhawatiran tertinggal momentum, melainkan oleh pertimbangan rasional dan perencanaan jangka panjang.
Dengan kondisi tersebut, penurunan BI Rate pada 2025 lebih berperan sebagai faktor pendukung, bukan pemicu utama pergerakan pasar. Pasar properti dinilai berada dalam fase konsolidasi, dengan pembeli dan penjual sama-sama menyesuaikan strategi di tengah dinamika ekonomi.