Sabtu, 13 Juni 2026

Krisis Hunian di Jerman, Hampir 7 Juta Rumah Tangga Penyewa Terbebani Biaya Rumah


  • Kamis, 04 Juni 2026 | 19:00
  • | News
 Krisis Hunian di Jerman, Hampir 7 Juta Rumah Tangga Penyewa Terbebani Biaya Rumah Hampir tujuh juta rumah tangga penyewa di Jerman terbebani oleh biaya tempat tinggal, menurut studi yang dilakukan Asosiasi Penyewa Jerman dan dirilis pada Rabu (3/6). (ANTARA/Xinhua)

BERLIN, ARAHPROPERTI.COM – Lonjakan biaya tempat tinggal semakin menjadi tantangan besar bagi masyarakat Jerman. Sebuah studi terbaru yang dirilis Asosiasi Penyewa Jerman mengungkapkan bahwa hampir tujuh juta rumah tangga penyewa kini menghadapi beban biaya hunian yang berat.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar sepertiga dari seluruh rumah tangga penyewa di negara itu. Bahkan, sekitar 3,2 juta rumah tangga harus mengalokasikan lebih dari 40 persen pendapatan bersih mereka hanya untuk membayar biaya tempat tinggal.

Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi akibat mahalnya biaya sewa tidak lagi menjadi masalah kelompok tertentu, melainkan telah menjadi persoalan sosial yang meluas di berbagai wilayah Jerman.

Penyewa Berpenghasilan Rendah Paling Terdampak

Kelompok yang paling merasakan dampak kenaikan biaya hunian adalah rumah tangga berpenghasilan rendah. Dari hampir 20 juta rumah tangga penyewa di Jerman, sekitar 8,3 juta rumah tangga atau 42 persen berada dalam kelompok sepertiga terbawah berdasarkan tingkat pendapatan.

Kelompok ini memiliki rata-rata pendapatan bersih bulanan sekitar 1.417 euro. Menurut hasil studi, sebagian besar dari mereka sudah berada di ambang batas kemampuan finansial karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk tempat tinggal.

Kondisi tersebut membuat banyak keluarga semakin rentan terhadap tekanan ekonomi, terutama ketika harga kebutuhan hidup lainnya juga mengalami kenaikan.

Harga Sewa Baru Jauh Lebih Mahal

Penelitian yang menggunakan data mikrosensus 2022 dan diperbarui dengan data statistik terbaru tahun 2024 itu menemukan adanya perbedaan signifikan antara tarif sewa lama dan kontrak baru.

Rumah tangga yang menandatangani kontrak sewa sejak 2020 harus membayar tarif rata-rata sekitar 21 persen lebih tinggi dibandingkan penyewa yang memiliki kontrak lebih lama.

Akibatnya, kelompok penyewa baru menghadapi beban biaya tempat tinggal rata-rata sebesar 33 persen dari pendapatan mereka, lebih tinggi dibandingkan mereka yang sudah lama menempati hunian yang sama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa akses terhadap hunian yang terjangkau semakin sulit, terutama bagi generasi muda, pekerja baru, dan keluarga yang harus berpindah tempat tinggal.

Berlin Jadi Salah Satu Wilayah dengan Kenaikan Sewa Tertinggi

Dampak kenaikan harga sewa paling terasa di kota-kota besar. Di Berlin, misalnya, rumah tangga yang mulai menempati hunian sejak 2020 membayar tarif sewa rata-rata 29 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata kontrak sewa yang berlaku secara nasional.

Kondisi tersebut memperlebar kesenjangan antara penyewa lama dan penyewa baru. Banyak warga akhirnya memilih bertahan di tempat tinggal mereka saat ini karena khawatir tidak mampu membayar sewa yang jauh lebih mahal jika pindah.

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai "lock-in effect", yaitu situasi ketika penyewa enggan berpindah rumah karena takut kehilangan tarif sewa yang lebih rendah.

Desakan Perketat Pengendalian Sewa

Menanggapi hasil studi tersebut, Presiden Asosiasi Penyewa Jerman, Melanie Weber-Moritz, mendesak pemerintah federal untuk mengambil langkah lebih tegas dalam mengendalikan kenaikan harga sewa dikutip Antara.

Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat aturan pengendalian sewa, memberikan sanksi lebih berat terhadap praktik penetapan tarif yang berlebihan, serta menjatuhkan denda yang signifikan kepada pelanggar.

Ia menilai langkah tersebut penting untuk melindungi jutaan penyewa dari kenaikan harga sewa yang dinilai tidak wajar dan semakin menggerus daya beli masyarakat.

Situasi ini menjadi sinyal bahwa krisis keterjangkauan perumahan di Jerman masih jauh dari selesai. Tanpa intervensi kebijakan yang efektif, semakin banyak rumah tangga berisiko menghadapi tekanan ekonomi akibat tingginya biaya tempat tinggal.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru