Minggu, 03 Mei 2026

Pembelian Menurun, Penyewaan Meningkat


  • Rabu, 16 Januari 2019 | 14:56
  • | News
 Pembelian Menurun, Penyewaan Meningkat Tren menyewa rumah meningkat (Net)

JAKARTA, ARAHPROPERTI.COM - Meski sebagian kalangan memperkirakan sektor properti, menggeliat positif, toh kawasan Jakarta masih stagnan bahkan cenderung menurun. Hal ini diungkap salah satu situs properti.

Adalah Portal properti Lamudi.co.id yang beberapa waktu melakukan analisa tentang minat membeli atau menyewa rumah di Jakarta. Analisa tersebut dilakukan menggunakan historical data para pencari properti melalui google di Kota Jakarta.

Berdasarkan analisa tersebut menyebutkan bahwa minat masyarakat untuk membeli rumah di Jakarta menurun setiap tahunnya, pada tahun 2017 jumlah orang yang berminat membeli rumah di Jakarta mencapai 319.200 orang, sementara tahun 2018 menurun mencapai 229.200 orang.

Hal ini berbanding terbalik dengan minat untuk menyewa rumah di Jakarta, tren pencarian informasi tentang sewa rumah di Jakarta justru mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2017 angka pencarian rumah sewa di Jakarta 106.200 orang, tahun 2018 meningkat menjadi 112.440 orang.

Untuk area pencarian informasi sewa rumah favorit sendiri berada di wilayah Tebet dengan rata-rata harga sewa Rp 900.000 per meter persegi. Kemudian Cibubur Rp 550.000 per meter persegi dan di terakhir di Kebayoran Baru dengan rata-rata harga Rp 1000.000 per meter persegi.

Menurut Mart Polman, Managing Director Lamudi.co.id, menurunnya minat seseorang untuk membeli rumah di Jakarta, karena harga rumah di ibukota sendiri saat ini sudah cukup mahal, tidak sebanding dengan penghasilan warganya yang saat ini Upah Minimum Provinsi (UMP) Rp 3.648.035.

“Karena kondisi seperti inilah, makanya tak heran, saat ini banyak warga Jakarta, khususnya para milenial yang lebih tertarik untuk membeli rumah di kawasan perbatasan dengan Jakarta seperti Bekasi, Tangerang atau Bogor,” kata Mart.Mart melanjutkan, sulitnya masyarakat Jakarta untuk membeli rumah di ibukota tentunya harus menjadi perhatian banyak pihak, apalagi berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bawah 49,91 persen penduduk Jakarta belum memiliki rumah, rata-rata dari mereka tinggal bersama orang tua atau mengontrak.

Sebelumnya, pendapat lain terlontarkan terkait pertumbuhan bisnis properti tanah air. Ferry Salanto, Senior Associate Director Research CII, mengungkapkan sektor properti di Indonesia tetap potensial sebagai investasi karena kelesuan pasar saat ini hanya sementara. “Pelemahan ini hanya siklus sementara, pada saatnya akan kembali meningkat. Apartemen di Jakarta misalnya, rasionya dengan jumlah penduduk nggak sampai dua persen. Artinya masih ada ruang yang sangat lebar untuk pasar apartemen berkembang,” katanya. Sehingga harapan besar pada pertumbuhan positif di pasar properti tahun 2019 ini, bisa diandalkan.

 


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru