Dirut BTN Sebut Dana Abadi Jadi Solusi Atasi ‘Backlog’ Perumahan


  • Jumat, 21 Juni 2024 | 23:30
  • | News
 Dirut BTN Sebut Dana Abadi Jadi Solusi Atasi ‘Backlog’ Perumahan Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon LP Napitupulu saat dijumpai media usai meninjau Race Expo di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (21/6/2024). (Antaranews)

JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM - Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Nixon LP Napitupulu memandang bahwa dana abadi perumahan dapat menjadi solusi yang lebih baik untuk menyelesaikan permasalahan backlog perumahan nasional.

“Kalau ditanya BTN usulannya apa, pembentukan dana abadi ini bisa menghasilkan 600 ribu rumah setahun untuk menyelesaikan backlog-nya lebih cepat. Kan tujuannya (kalau dibandingkan iuran Tapera) juga sama-sama (untuk mengatasi) backlog,” kata Nixon saat dijumpai media usai meninjau “Race Expo” di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (21/6/2024).

Nixon mengatakan, pihaknya sudah menyampaikan usulan konsep dana abadi perumahan itu kepada pemerintah dan berharap usulan tersebut disetujui oleh pemerintah. Dengan skema dana abadi, menurut dia, target pembangunan 3 juta rumah pada masa pemerintahan baru dapat terlaksana.

Namun jika hanya mengandalkan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan model dana bergulir yang selama ini dijalankan, Nixon mengingatkan pembangunan 3 juta rumah akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“(Target) 3 juta (rumah), berarti 600 ribu rumah setahun. Hari ini cuma 200 ribu rumah setahun, jadi (target itu naik) 3 kali lipat. Supaya bisa 3 kali lipat, skemanya mesti diubah. Skema yang kita usulkan menggunakan dana abadi. Ditambah kombinasi dana abadi, return-nya itu untuk bayar subsidi selisih bunga,” jelas dia dikutip Antara.

Nixon mengatakan bahwa dana abadi yang diakumulasi di masa awal pembentukannya memang belum terlalu besar sehingga perlu dikombinasikan dengan subsidi selisih bunga (SBB).

Model dana abadi yang diusulkan BTN menggunakan dana FLPP yang kemudian diinvestasikan di instrumen tertentu. Adapun imbal hasil (return) atau keuntungan dari investasi itu nantinya dapat digunakan untuk membayar SBB.

“Kalau FLPP saja, menurut kami, kemahalan dari sisi budget buat pemerintah. Kalau SSB saja, nanti jangka panjang juga kemahalan. Jadi yang paling bagus adalah jalan tengahnya, ada dana abadi. Tapi menunggu akumulasi dana abadi besar, ya, mungkin dikombinasikan ada SSB dulu,” kata Nixon.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru