Loading
lustrasi hunian New Palm Town House milik PT Jababeka Tbk. (Antaranews)
JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM - Harga rumah sekunder di Indonesia turun tipis 0,3% secara month-on-month (MoM) pada Oktober 2025 berdasarkan Resale Price Index (RPI) yang dirilis Rumah123.com melalui laporan Flash Report November 2025.
Meskipun secara bulanan mengalami koreksi, harga rumah secara tahunan masih tumbuh 0,3% year-on-year (YoY). Laporan itu mencatat bahwa 7 dari 13 kota yang dipantau justru mengalami kenaikan harga bulanan. Kota dengan pertumbuhan tertinggi adalah Makassar, yang melonjak 8,4% MoM.
Yogyakarta Memimpin Kenaikan Tahunan
Pada skala tahunan, 9 dari 13 kota mencatatkan pertumbuhan harga rumah. Yogyakarta menjadi yang tertinggi dengan kenaikan 5,4% YoY, diikuti oleh Denpasar (4,1%) dan Makassar (3,5%).
Baca juga:
Pasar Properti Indonesia Tetap CerahRumah123.com dalam laporannya menyebutkan bahwa laju pertumbuhan harga secara nasional melambat sejak Juni 2025, berada di bawah 1% selama tujuh bulan terakhir.
Gap Inflasi dan Harga Rumah Melebar
Pada Oktober 2025, inflasi IHK tercatat 2,86% YoY, sementara pertumbuhan RPI nasional hanya 0,3% YoY—menciptakan selisih 2,3% antara inflasi dan kenaikan harga rumah.
Rumah123.com menegaskan bahwa sejak April hingga Oktober 2025, inflasi konsisten berada di atas pertumbuhan harga rumah.
Sejumlah Kota Tetap Tahan Tekanan
Meski pasar nasional mengalami perlambatan, beberapa kota masih menunjukkan tren positif, seperti Denpasar, Depok, Semarang, Tangerang, dan Yogyakarta. Namun, laporan juga menilai bahwa pertumbuhan di kota-kota tersebut cenderung lebih rendah dibandingkan periode 2023–2024.
Tentang LaporanSeluruh data bersumber dari Flash Report November 2025 yang dirilis resmi oleh Rumah123.com sebagai bagian dari 99 Group. RPI dihitung menggunakan metode Regresi Hedonis berdasarkan listing aktif bulanan di Rumah123 dan 99.co.