Rabu, 14 Januari 2026

Suplai Rumah Menyusut, Tanda Pemilik Mulai Menahan Aset?


  • Minggu, 14 Desember 2025 | 12:30
  • | News
 Suplai Rumah Menyusut, Tanda Pemilik Mulai Menahan Aset? Kawasan hunian terpadu yang menyediakan fasilitas lengkap dan bisa dijangkau dalam Waktu lima menit saja. (Foto: richway.pro/asthara-skyfront-airport-city)

JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM - Penurunan suplai rumah yang terjadi belakangan ini bukan sekadar angka statistik. Di balik data tersebut, tersimpan sinyal psikologis pemilik rumah yang mulai bersikap lebih berhati-hati. Salah satu indikator yang menarik untuk dibaca adalah Residential Supply Index (RSI), yang mencatat penurunan 0,3% secara bulanan (MoM) dan bahkan -8,6% secara tahunan (YoY).

Lantas, apa makna dari menyusutnya suplai rumah ini? Apakah pasar sedang lesu, atau justru pemilik properti tengah “menahan napas” menunggu momentum yang lebih tepat?

Ketika Pemilik Memilih Menahan Aset

Turunnya RSI menunjukkan semakin sedikit rumah yang masuk ke pasar. Namun, ini tidak selalu berarti permintaan anjlok. Dalam banyak kasus, pemilik rumah justru memilih menunda penjualan, bukan karena terpaksa, tetapi karena perhitungan psikologis dan ekonomi mengutip Rumah123.com dalam Flash Report Pasar Properti edisi Desember 2025

Di tengah ketidakpastian suku bunga, fluktuasi daya beli, dan ekspektasi harga di masa depan, rumah kembali dipandang sebagai aset lindung nilai. Alih-alih melepas properti dengan harga yang dianggap belum optimal, pemilik memilih bertahan dan menunggu kondisi pasar yang lebih menguntungkan.

Sinyal Psikologis Pasar yang Perlu Dibaca

Penurunan RSI secara tahunan hingga 8,6% memberi pesan kuat: ada perubahan sikap kolektif. Pemilik rumah cenderung lebih rasional dan tidak reaktif. Mereka membaca pasar, menimbang risiko, dan menunda keputusan besar.

Dari sisi psikologi pasar, kondisi ini sering muncul saat pelaku pasar berada di fase wait and see. Bukan panik, tetapi juga belum sepenuhnya optimistis. Pasar seolah berhenti sejenak, menunggu katalis yang cukup kuat—baik dari kebijakan moneter, stabilitas ekonomi, maupun pemulihan daya beli.

Apakah Ini Pertanda Negatif?

Tidak selalu. Menyusutnya suplai justru bisa menjadi penyeimbang alami pasar. Dengan pasokan yang lebih terbatas, tekanan penurunan harga dapat diredam. Dalam jangka menengah, kondisi ini berpotensi menciptakan pasar yang lebih stabil, terutama jika permintaan mulai bergerak naik.

Bagi investor dan calon pembeli, situasi ini menuntut strategi yang lebih cermat. Pasar properti bukan sedang “mati”, melainkan sedang berpikir.

Membaca Arah Pasar ke Depan

Jika RSI terus menurun tanpa diiringi pemulihan permintaan, pasar bisa memasuki fase stagnasi yang lebih panjang. Namun jika penurunan suplai ini diikuti perbaikan sentimen ekonomi, bukan tidak mungkin kita akan melihat lonjakan aktivitas ketika pemilik rumah kembali melepas asetnya ke pasar.

Dengan kata lain, rumah yang ditahan hari ini bisa menjadi suplai yang meledak esok hari—saat keyakinan pasar pulih.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru