Loading
Kemudahan kepemilikan properti bagi kaum milenial (Net)
JAKARTA, ARAHPROPERTI.COM - Skema baru untuk memudahkan kaum milenial memiliki properti tempat tinggal, tengah dalam proses perumusan. "Kami siapkan skema baru agar para milenial mudah memiliki rumah. Jangan terlena dengan apa yang anda dapatkan sekarang, karena nilai uang akan menurun. Segera miliki rumah," kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dalam keterangan tertulisnya, kemarin di Jakarta.
Ia mengemukakan bahwa skema baru tersebut saat ini tengah dibahas oleh Kementerian PUPR bersama Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Implementasi skema tersebut dijadwalkan bakal mulai dilaksanakan pada tahun 2019 sesuai instruksi Presiden Joko Widodo.
Menteri Basuki menjelaskan bahwa skema fasilitas pembiayaan perumahan bagi para milenial akan dimasukkan dalam skema bantuan pembiayaan perumahan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI dan Polri, yang selama ini tidak bisa memanfaatkan KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) karena adanya batasan maksimal penghasilan sebesar Rp4 juta hingga Rp7 juta per bulannya sehingga harus menggunakan KPR komersial.
Oleh karenanya, skema baru nantinya tidak akan dibatasi besaran penghasilannya, suku bunga yang dikenakan di bawah lima persen, uang muka satu persen, dan bantuan uang muka sebesar Rp 4 juta.
KPR subsidi, DP sebesar 1 persen dengan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) plus 5 persen. Sedangkan, KPR nonsubsidi itu dengan DP sebesar 5 persen dan suku bunga acuan BI plus 3 persen.
Kaum milenial ini rata-rata memiliki gaji antara Rp4 juta hingga Rp7 juta. Sehingga, harga rumah yang sesuai dengan kemampuan mereka itu dipatok dengan harga Rp300 juta hingga Rp500 juta dan banyak suplai di kawasan Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek).
Sebelumnya sempat diwartakan, program KPR milenial direncanakan mulai dilaksanakan tahun depan. Tidak hanya melalui Bank BTN, perbankan lain juga dapat menjalankan program ini. Kemampuan generasi milenial dalam membeli properti maksimal Rp1 miliar, sementara 17% di antaranya baru mampu membeli rumah dengan harga di atas Rp300 juta. Rata-rata penghasilan milenial sebesar Rp3-6 juta, sedangkan untuk membeli rumah seharga Rp300 juta dibutuhkan income minimal Rp7,5 juta per bulan.
Menurut Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani, saat ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan perencanaan pembelian rumah. Alasannya, kata Rosan, proyeksi pertumbuhan ekonomi di atas 5%, kemudian pembangunan infrastruktur yang intensif, dan perbaikan peringkat kemudahan berbisnis yang memberikan harapan pada pasar properti untuk terus bertumbuh.
“Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh pengembang bisnis properti untuk semakin cermat dalam melihat peluang dan membaca permintaan pasar khususnya generasi milenial yang biasanya menginginkan friendly, flexibility payment dan affordable,” ujarnya.
Rosan menambahkan, tantangan bagi pengembang properti adalah orientasi pengembangan harus mengarah kepada produk properti yang bisa dijangkau oleh pasar generasi milenial. Apalagi segmen ini berpotensi untuk terus tumbuh hingga sepuluh tahun mendatang sehingga berpengaruh terhadap industri ini.
Bank-bank pemberi kredit perumahan pun harus membuka diri agar bisa diakses oleh generasi milenial karena kemampuan generasi ini dalam membeli properti maksimal Rp1 miliar, di mana 17% di antaranya baru mampu membeli rumah dengan harga di atas Rp300 juta. Hal ini karena rata-rata penghasilan mereka sebesar Rp3-6 juta, sedangkan untuk membeli rumah seharga Rp300 juta, dibutuhkan income minimal Rp7,5 juta per bulan.
“Diharapkan masalah generasi milenial ini bisa akomodir oleh pemerintah, sehingga bisa diterbitkan kebijakan yang mendukung generasi milenial untuk bisa memiliki properti,” kata Rosan.
Dan memenuhi harapan tersebut, Pemerintah pun saat ini tengah merumuskan skema baru dalam rangka memudahkan kalangan milenial memiliki properti tempat tinggal.