Loading
Pertumbuhan properti di Kaltim meningkat (Net)
JAKARTA, ARAHPROPERTI.COM - Pemerintah telah memutuskan rencana hijrahnya Ibu Kota Kalimantan Timur, persisnya di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara. “Nantinya, di lokasi baru tersebut akan dibangun beragam hunian dan infrastruktur baru yang dapat mendorong meningkatnya pasar properti,” ungkap Presiden Joko Widodo saat menyampaikan rencana pemindahan tersebut.
Atas keputusan itu, kementerian terkait pun sudah ancang-ancang mulai membangun di tahun 2020. Dengan begitu, ditargetkan tahap awal perpindahan ibu kota mulai dilakukan pada 2024.
Keputusan ini pun sangat berdampak pada perkembangan properti di lokasi tersebut. Menurut Mart Polman, Managing Director Lamudi.co.id, pemindahan ibu kota justru bisa berdampak positif terhadap bisnis properti di Jakarta. Alasannya, kata dia, walaupun tidak menjadi ibu kota lagi, Jakarta akan tetap menjadi pusat perekonomian, sehingga aktivitas jual beli properti tidak akan terganggu dengan masalah politik dan pemerintahan.
“Khusus untuk properti kelas atas memang sangat berpengaruh terhadap kondisi politik dan ekonomi, jadi jika ibu kota berpindah maka bisnis jual beli properti untuk segmen atas akan tetap terjaga,” kata Mart dalam keterangannya di Jakarta.Mart juga tetap meyakini bahwa kebutuhan hunian di Jakarta akan tetap tinggi, karena kota ini memiliki pasar properti yang sudah terbentuk. Terutama untuk segmen hunian vertikal, lanjut Mart, apalagi yang terkoneksi dengan moda transportasi massal, seperti LRT, busway dan MRT.
Sementara soal potensi properti di Kalimantan Timur sebagai ibu kota baru, Mart menilai, juga akan berdampak positif.Ia pun menambahkan, sektor properti di Kalimantan Timur dipastikan akan tumbuh melesat kencang. Beberapa pengembang nasional sudah berada di kota itu. Bahkan, ada beberapa lainnya yang bersiap menggarap proyek properti skala besar di kawasan itu. Setidaknya pengembang-pengembang tersebut telah memiliki lahan di Kalimantan Timur.
Sebut saja, diantaranya adalah Ciputra Group, Agung Podomoro Land, Cowell, Wika Realty, PP Properti, Bintang Omega Sakti, dan Lippo Group.
Sinar Mas Land justru sudah sejak lama melihat besarnya potensi bisnis properti di Kota Minyak Balikpapan. Kini, pengembang tengah menggarap proyek ketiganya selepas sukses dengan Balikpapan Baru dan Balikpapan Permai.
Proyek ketiga di Kota Minyak tersebut adalah Grand City Balikpapan seluas 220 hektar yang sudah diluncurkan sejak pertengahan Maret 2014 lalu. Proyek sekala kota ini akan dikembangkan dalam beberapa tahap, dimana tahap awal akan dibuka 40 hektar.
Belum alam ini, Grand City Balikpapan baru meluncurkan klaster hunian baru, yakni Klaster Hayfield yang dipasarkan dengan harga perdana mulai Rp600 jutaan. Dengan harga tersebut, pengembang menyasar para professional muda dengan penghasilan antara Rp8-10 juta per bulan.
“Hunian ini memang kami hadirkan dengan target pasar adalah kalangan milenial atau pasangan baru,” ujar Franky Najoan, CEO East Indonesia Sinar Mas Land melalui keterangan tertulisnya.
Pengembang memudahkan calon pembelinya dengan cicilan DP berkisar Rp3 jutaan selama 24 bulan tanpa bunga. “Fitur yang menarik secara nilai investasi adalah pada saat DP lunas di bulan ke-24, maka di saat itu juga harga rumah sudah naik 15-20%,” katanya.
Pengembang nasional berikutnya adalah Agung Podomoro Land dengan proyeknya Borneo Bay City, juga di Balikpapan. Bahkan sudah beredar iklan pengembang, “Investasi Terbaik di Ibu Kota Negara Baru di Kalimantan Timur.”
Harga hunian di tepian pantai Teluk Balikpapan tersebut ditawarkan mulai Rp 700 jutaan. Pengembang memiliki total lahan seluas 48 hektar. Proyek sudah mulai dikembangkan sejak 2013 lalu dan saat ini baru dibangun sekitar 8 hektar untuk proyek superblok. Bahkan apartemen sudah dibangun dan siap huni.
Borneo Paradiso meliputi area seluas 120 hektar. Kompleks ini dibangun untuk kehidupan kelas menengah ke atas, mengakomodasi keharmonisan sosial dan kehidupan lingkungan.
Terletak di area pertanian dan pertambangan, Borneo Paradiso berlokasi strategis, 3 km dari Bandara Sepinggan. Kompleks perumahan ini dikembangkan di bawah usaha patungan antara PT Cowell Development dan PT Karya Agung Putra Indonesia.Adapun pengembang nasional lainnya adalah Ciputra Development yang memiliki lahan terbesar di Samarinda yang mencapai 590 hektar.
Beberapa proyek di kota ini, yakni CitraGrand Senyiur City Samarinda 397 hektar, CitraGarden City Samarinda 100 hektar dan CitraLand City Samarinda 93 hektar.
Sementara lahan milik Ciputra di Balikpapan tersebar di proyek Citra Bukit Indah Balikpapan 21 hektar dan Citra City Balikpapan 9 hektar.