Rabu, 14 Januari 2026

Pahami Istilah Dalam Bisnis Properti untuk Hindari Kesalahpahaman


  • Rabu, 12 Desember 2018 | 09:42
  • | Tips
 Pahami Istilah Dalam Bisnis Properti untuk Hindari Kesalahpahaman Memahami beragam istilah dalam bisnis properti (Net)

PENGUASAAN terhadap istilah-istilah yang sering digunakan dalam sektor bisnis ini termasuk bagian dari jalan menuju puncak kesuksesan dalam memulai bisnis. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan Anda dari kesalahpahaman, sekaligus meminimalisir kesalahan, terutama ketika membahas atau sedang melakukan transaksi dengan seseorang yang tertarik dengan promosi bisnis properti Anda.

Berikut adalah beberapa istilah yang sering digunakan dalam bisnis properti:

1. Property crash. Istilah ini menggambarkan adanya suatu guncangan aktivitas investasi properti yang diakibatkan oleh goyahnya perekonomian.

2. GSJ. Garis Sempadan Jalan. Yaitu garis rencana jalan yang ditetapkan dalam dalm rencana kota.

3. Good investment. Istilah ini menandakan sebuah keputusan yang tepat dalam melakukan sebuah investasi. Jika diartikan secara bahasa, istilah ini memiliki pengertian sebagai investasi yang baik.

4. Nice property. Sudah pasti bahwa suatu lokasi, ukuran, kondisi fisik, dan penawaran harga yang sesuai merupakan paket yang diinginkan oleh banyak orang dalam hal bisnis properti. Jadi, istilah ini menggambarkan adanya kecocokan beberapa aspek dari suatu bangunan (properti fisik), sehingga sangat disayangkan jika tidak ditindaklanjuti.

5. GSB. Garis Sempadan Bangunan. Yaitu garis yang tidak boleh dilampaui oleh denah bangunan ke arah GSJ yang ditetapkan dalam rencana kota.

6. Booming. Istlah ini sama halnya dengan istilah ngetren. Istilah ini ada sangkut pautnya dengan tingginya minat dari masyarakat terhadap properti yang sedang dibangun oleh investor.

7. Demand (permintaan). Istilah ini menunjukkan tingginya skala pemintaan oleh banyak kalangan atas objek properti.

8. AJB. Kependekan dari Akta Jual Beli.

9. Supply. Penyedia atau penyalur objek properti sebagai upaya untuk memenuhi banyaknya permintaan para peminat.

10. IMB. Kependekan dari Izin Mendirikan Bangunan.

11. KDB (koefisien Dasar Bangunan). Perbandingan jumlah luas lantai dasar terhadap luas tanah perpetakan yang sesuai dengan rencana tata kota.

12. KLB (koefisien Luas Bangunan). Perbandingan jumlah luas lantai dasar terhadap luas tanah perpetakan yang sesuai dengan rencana tata kota.

13. Wait and see. Tindakan menganalisis, atau lebih tepatnya tindakan mengamati sambil merumuskan waktu yang tepat untuk melakukan investasi. Hal ini penting karena berkaitan dengan keadaan apakah memungkinkan atau malah tidak baik, sehingga menunda untuk beberapa waktu adalah lebih baik. Intinya, bisnis properti ini waktunya harus pas agar tepat sasaran. Dan, biasanya, analisis para pebisnis properti itu sangat peka terhadap kebutuhan pasar/masyarakat.

14. Loss transaction. Istilah ini digunakan untuk menyebut kehilangan nominal uang yang sebelumnya tidak kasat mata, sehingga acap kali terabaikan dalam sebuah perencanaan investasi. Pemakaian istilah ini biasanya dijumpai dalam beberapa hal, seperti pembayaran BPHTB, PPh, pemberian feekepada broker, dan lain sebagainya.

15. BBN. Kependekan dari Bea Balik Nama.

16. Prosperous. Istulah ini digunakan untuk menunjukkan adanya prospek yang menjanjikan terhadap proyek properti yang akan dijalankan. Misalnya, di salah satu daerah, dimana antusiasme masyarakat sangat tinggi terhadap rencana proyek properti, maka proyek tersebut dapat dinyataka prosperous potensial untuk terus dilanjutkan dan dikembangkan.

17. KPR. Kependekan dari Kredit Pemilik Rumah.

18. Turn key. Perjanjian penyerahan kunci rumah yang waktunya sudah disepakati dari kontraktor atau developer (pengembang).

19. Cluster. Istilah ini berkaitan dengan suatu kelompok bangunan yang diciptakan pengembang dengan membagi master plan kawasan properti menjadi beberapa kelompok yang disesuaikan dengan tipe dan luasnya.

20. BPHTB. Kependekn dari Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

21. Urban. Daerah pinggiran kota yang dikembangkan sebagai penyangga pusat kota.

22. KPA. Kependekan dari Kredit Pemilikan Apartemen.

23. Recession. Dalam berbisnis adalah hal biasa jika terjadi pasang surut. Istilah recession menggambarkan kondisi di mana bisnis properti sedang lesu atau mengalami penurunan daya beli. Recession, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, memiliki arti yang sama dengan resesi.

24. BPN. Kependekan dari Badan Pertanahan Nasional.

25. Turn over. Target penjualan dan hasil yang akan didapatkan pastinya sudah diperhitungkan oleh para investor atau pebisnis di sektor lainnya. Perkiraan itu tentu sudah melibatkan banyak pandangan dan rencana serta berbagai hal kemungkinan yang akan terjadi dalam suatu bisnis. Nah, istilah Turn Over ini digunakan untuk memperkirakan waktu kapan suatu bisnis atau investasi itu balik modal.

26. Site plan. Detail mengenai rencana pengembangan suatu lokasi yang berbentuk gambar dua dimensi, yang menyangkut pengavelingan, perencanaan jalan, dan lain sebagainya. Istilah lainnya adalah master plan.

 


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tips Terbaru