Loading
Fransiscus Go Pengusaha sektor properti yang bergelut lebih dari 30 tahun. (Foto: Dok. Pribadi)
JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM - Pesatnya pertumbuhan sektor properti dan konstruksi, menawarkan peluang besar untuk profesi Building Manager (BM). Profesi Building Manager (BM) dibutuhkan untuk dan dapat mengelola aset gedung secara profesional dan menguntungkan.
Fransiscus Go, Pengusaha sektor properti yang bergelut lebih dari 30 tahun menantang Anda untuk menjadi seorang Building Manager.“Mengapa menjadi Building Manager (BM) layak dipertimbangkan? Gaji tinggi, posisi BM menawarkan penghasilan kompetitif, bahkan bisa 2-3 kali lipat dibanding gaji manajer biasa,” jelasnya.
Menurut Frans Go biasa disapa, posisi BM sesuai bagi seseorang yang menyukai tantangan. Jika Anda mempunyai jiwa pemimpin dan visi bisnis, ini saatnya melangkah ke dunia properti yang penuh dengan peluang. Diskusikan ide Anda dan temukan potensi sebagai building manajer.
Frans Go meyakini bahwa seorang BM yang andal dapat meningkatkan Net Operating Income (NOI) hingga 20%+ lewat strategi sewa dan efisiensi. Mengubah gedung biasa menjadi aset bernilai tinggi melalui terobosan pengelolaan gedung.
“Building Manager memberikan dampak nyata, seseorang tidak hanya mengelola gedung, tapi juga menciptakan nilai tambah melalui sewa, parkir, dan efisiensi biaya. Tantangan strategisnya adalah mengubah dari tenant mix hingga smart building, bidang ini membutuhkan keahlian manajerial dan bisnis yang teruji,” kata Frans Go yang juga alumni Lemhanas Angkatan 49.
Seperti diketahui, industri properti merupakan salah satu penghela pertumbuhan ekonomi nasional. Investasi di sektor properti menyerap lapangan kerja dan turut menggerakkan 185 industri terkait, mulai dari bahan bangunan hingga peralatan rumah tangga. Sepanjang Tahun 2024, mengutip data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi properti di subsektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran mencapai total Rp122,9 triliun. Angka ini menempati peringkat empat besar dari total 23 subsektor. Dari investasi tersebut, proyek yang bersumber dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat berjumlah 20.017 proyek, sedangkan dari penanaman modal asing (PMA) 17.818 proyek.
Menurut Frans Go, pembangunan properti di Indonesia pada tahun 2025 diprediksi akan terus bertumbuh secara stabil, didorong oleh berbagai faktor positif termasuk kebijakan pemerintah dan pertumbuhan ekonomi. Sektor residensial dan komersial diperkirakan akan mengalami pertumbuhan investasi dengan kontribusi sektor properti terhadap PDB meningkat.
“Secara keseluruhan, prospek sektor properti ini menunjukkan optimisme di tengah ketidakpastian global. Dengan harapan, ekonomi Indonesia tetap berdaya tahan. Oleh karena itu, sektor properti, terutama perumahan diprediksi akan menjadi motor penggerak perekonomian Indonesia dalam beberapa tahun mendatang,” jelas Frans Go lagi.