Loading
Ilustrasi - Senyum, sapa, dan salam menjadi fondasi dasar pelayanan. (Foto: topshelfiowa.com)
JAKARTA, PROPERTI.ARAHKITA.COM —Melayani pelanggan kerap dianggap hal sepele. Padahal, di situlah kualitas sebuah bisnis diuji. Dalam praktik sehari-hari, terutama di sektor properti, pelayanan justru sering menjadi aspek yang terabaikan—padahal dampaknya sangat menentukan keberlanjutan usaha.
Menurut Frumens da Gomez, seorang Pegiat Properti Indonesia, pemilik usaha boleh merasa sudah berbuat cukup baik. Namun, penilaian sesungguhnya selalu datang dari pelanggan. Merekalah yang merasakan langsung apakah sebuah pelayanan dilakukan dengan tulus, setengah hati, atau sekadar formalitas.
Pelayanan memang bukan pekerjaan fisik yang berat, tetapi menuntut komitmen yang jujur dan konsisten. Sekali pelanggan merasa kecewa, kepercayaan bisa hilang. Dan ketika itu terjadi, mereka tidak akan ragu beralih ke tempat lain—sebuah risiko besar bagi bisnis properti.
Baca juga:
GMT Institute Buka Jadwal Lengkap Property Management Course 2026, Tawarkan Kelas Offline dan OnlinePelayanan Dimulai Sejak Kesan Pertama
Frumens mengatakan dalam pengelolaan properti, pelayanan adalah kerja tim. Ada petugas keamanan di pintu utama, resepsionis di lobi, hingga staf operasional di berbagai lini. Semua punya peran penting dalam membentuk pengalaman pertama pelanggan.
Senyum, sapa, dan salam terdengar klise, tetapi justru itulah fondasi dasar pelayanan. Tamu datang dengan latar belakang dan tujuan yang beragam—baik atau buruk—namun kewajiban penyedia layanan tetap sama: menyambut dengan ramah dan profesional.
Pelayanan ala GMT Institute: Kerja Tim, Bukan Kerja Satu Orang
Dalam konteks inilah GMT Institute mencoba memberikan sejumlah pandangan positif tentang bagaimana pelayanan seharusnya dijalankan. Pelayanan tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari kerja kolektif seluruh elemen dalam sebuah organisasi pengelolaan.
Dalam pengelolaan properti, setiap bagian saling terhubung. Ada petugas keamanan di pintu utama, resepsionis di area lobi, hingga unit-unit operasional lain di belakang layar. Semua memegang peran penting dalam membentuk pengalaman pelanggan secara utuh.
GMT Institute menekankan bahwa pelayanan yang baik dimulai sejak kesan pertama. Ketika pelanggan atau tamu pertama kali datang, sikap ramah bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. Senyum, sapa, dan salam adalah bahasa universal pelayanan—bahkan ketika maksud kedatangan tamu belum sepenuhnya diketahui.
Prinsip Dasar Pelayanan Menurut GMT Institute
Dalam berbagai panduan excellent service, GMT Institute menekankan prinsip-prinsip dasar yang sederhana, tetapi sering diabaikan dalam praktik:
Ketika pelanggan merasa dilayani dengan baik, komunikasi akan terbangun secara alami. Dari sinilah kepercayaan tumbuh, dan peluang keberhasilan bisnis menjadi lebih besar.
Excellent Service Ada di Setiap Divisi
Frumens menegaskan bahwa pelayanan prima bukan hanya tugas satu departemen. Dalam pengelolaan properti dikenal berbagai lini: security excellence, housekeeping excellence, engineering excellence, hingga marketing excellence.
Seluruh divisi tersebut dapat berjalan optimal bila didukung sumber daya manusia yang berpikir positif, bekerja dengan tanggung jawab, menjaga etika komunikasi, serta memiliki sikap dan penampilan profesional. Intinya, pelayanan yang unggul lahir dari manusia yang sehat secara jasmani dan rohani.
Melayani dengan Lebih Sungguh-Sungguh
Pada akhirnya, pelayanan adalah cerminan nilai sebuah organisasi. Melayani bukan sekadar menjalankan prosedur, melainkan kesediaan untuk hadir dan peduli. Ketika pelayanan dilakukan dengan kesungguhan—seperti yang ditekankan GMT Institute—kepercayaan akan tumbuh, dan kesuksesan pengelolaan properti bukan lagi sekadar harapan.