Loading
Konsep Imah Panggung (Net)
ARSITEKTUR Tradisional Sunda memiliki karakteristik yang sangat khas yaitu rumah panggung. Panggung merupakan rumah berkolong dengan menggunakan pondasi umpak. Teknologi panggung pada bangunan rumah ini dimungkinkan untuk memberikan kehangatan pada penghuninya.
Bentuk panggung yang mendominasi sistem bangunan di Tatar Sunda mempunyai fungsi teknik dan simbolik. Secara teknik rumah panggung atau imah panggung memiliki tiga fungsi; (1) Tidak mengganggu bidang resapan air; (2) Kolong sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang baik untuk kehangatan (di malam hari) atau kesejukan (di siang hari); (3) Dari fungsi, kolong juga dipakai untuk menyimpan persediaan kayu bakar dan lain sebagainya. Dengan keunggulan struktur bangunan ini, rumah adat Sunda berkonsep imah panggung, sangat efektif menghindari banjir masuk dalam rumah. Sehingga penghuninya aman menempati rumah tersebut, disaat musim penghujan tiba.
Secara simbolik memberikan pengertian pada bagian bawah, tengah dan atas. Dunia tengah merupakan pusat alam semesta dan manusia menempatkan diri sebagai pusat alam semesta, karena itulah tempat tinggal manusia harus terletak di tengah-tengah, tidak ke dunia bawah (bumi) dan atas (langit).
Dengan demikian, rumah tersebut harus memakai tiang yang berfungsi sebagai pemisah rumah secara keseluruhan dengan dunia bawah dan atas. Tiang rumah juga tidak boleh terletak langsung di atas tanah, oleh karena itu harus di beri alas yang berfungsi memisahkannya dari tanah yaitu umpak.
Panggung memiliki bentuk yang sangat unik karena terdiri dari tiga bagian; kolong, lantai, dan atap. Kolong yang ditopang oleh pondasi umpak memisahkan antara tanah dengan lantai, sehingga seperti melayang. Bentuk atap merupakan metafora dari binatang, seperti julang ngapak yang menyerupai burung julang yang sayapnya sedang mengepak, badak heuay menyerupai badak yang sedang menguap, tagog anjing menyerupai anjing yang sedang ambil posisi duduk, dan lain sebagainya. Lantai panggung terbuat dari bilah bambu yang disebut talupuh. Lantai ini ternyata mampu mengatur sistem aliran udara di dalam rumah, karena sebagai media pengkondisian ruang dengan mengalirnya udara secara silang, baik untuk kehangatan di malam hari atau kesejukan di siang hari.
Konsep Struktur dan Konstruksi Rumah
Bentuk struktur dan konstruksi imah panggung yang disusun berdasarkan umpak (pondasi), pangadeg (dinding bilik), dan suhunan (atap) adalah satu kesatuan yang utuh. Ketiganya merupakan kompleksitas dari struktur dan konstruksi yang di dalamnya mencakup proses penggunaan material bangunan, mulai dari mengambil, mengawetkan, mengolah sampai dengan menggunakannya. Seluruh material bangunan berasal dari alam dan proses pengolahannya dilakukan secara tradisional (manual).
Struktur dan konstruksi juga dilakukan secara tradisional, misalnya teknik sambungan menggunakan paseuk (pasak) dan beungkeut (ikatan) ijuk atau rotan yang sangat kuat. Material rumah boleh menggunakan bahan fabrikasi, atau kombinasi antara alam dengan fabrikasi, misalnya penutup atap menggunakan bahan genteng yang lebih ringan, dinding dari GRC, dan rangka atap dari baja trust (baja ringan). Pondasi juga boleh menggunakan beton bertulang dengan teknik tertentu.
Di atas pondasi tersebut dipasang tiang atau kolom dari kayu, atau bahkan dari beton juga sebagai struktur utama penyangga lantai. Kolom-kolom tersebut dihubungkan oleh balok sloof beton di bagian bawahnya dan balok induk pada bagian atasnya sebagai struktur lantai. Kolom-kolom struktur diletakkan sesuai modulnya, yaitu 300x300 cm dengan dimensi kolom 30x30 cm (bentuk kubus), atau diameter 30-40 cm (bentuk bulat). Kolom struktur menggunakan material kayu dolken atau beton bertulang. Masyarakat bebas menentukannya sesuai selera dan kemampuan finansial. Di bawah setiap kolom tersebut dipasang pondasi foot plat , atau di letakkan pondasi umpak (batu).